Selasa, 24 September 2013

Asuhan Keperawatan Dengan Masalah Asma


A.                KONSEP MEDIS
a.                  PENGERTIAN
Asma adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam –macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih – lebihan dari kelenjar – kelenjar di mukosa bronchus.

b.                  ETIOLOGI
*                  Faktor Ekstrinsik
Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen – inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk – serbuk dan bulu binatang.
*                  Faktor Intrinsik
F    Infeksi :
1.             virus yang menyebabkan ialah para influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV)
2.                  bakteri, misalnya pertusis dan streptokokkus
3.                  jamur, misalnya aspergillus

F    Cuaca :
Perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok, polutan udara emosional : takut, cemas dan tegang aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari.
c.                   PATOFISIOLOGI
Asma ialah penyakit paru dengan cirri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap barbagai ransangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Kelainan yang didapatkan adalah:
1.                  Otot bronkus akan mengkerut ( terjadi penyempitan)
2.                  Selaput lendir bronkus udema
3.                  Produksi lendir makin banyak, lengket dan kental, sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lubang bronkus menjadi sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak napas. Serangan tersebut dapat hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat.
4.                 Pada stadium permulaan serangan terlihat mukosa pucat, terdapat edema dan sekresi bertambah. Lumen bronkus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah, infiltrasi sel eosinofil dalam secret didlam lumen saluran napas. Jika serangan sering terjadi dan lama atau menahun akan terlihat deskuamasi (mengelupas) epitel, penebalan membran hialin bosal, hyperplasia serat elastin, juga hyperplasia dan hipertrofi otot bronkus. Pada serangan yang berat atau pada asma yang menahun terdapat penyumbatan bronkus oleh mucus yang kental.
Pada asma yang timbul akibat reaksi imunologik, reaksi antigen – antibody menyebabkan lepasnya mediator kimia yang dapat menimbulkan kelainan patologi tadi. Mediator kimia tersebut adalah:
a.                   Histamin
F    Kontraksi otot polos
F    Dilatasi pembuluh kapiler dan kontraksi pembuluh vena, sehingga terjadi edema
F    Bertambahnya sekresi kelenjar dimukosa bronchus, bronkhoilus, mukosaa, hidung dan mata
b.                  Bradikinin
F    Kontraksi otot polos bronchus
F    Meningkatkan permeabilitas pembuluh darah
F    Vasodepressor (penurunan tekanan darah)
F    Bertambahnya sekresi kelenjar peluh dan ludah
c.                   Prostaglandin
F    bronkokostriksi (terutama prostaglandin F)

d.                  MANIFESTASI KLINIK
-                      Wheezing
-                      Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot- otot asesori pernapasan
-                      pernapasan cuping hidung
-                      batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit
-                      diaphoresis
-                      sianosis
-                      nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan
-                      kecemasan, labil dan penurunan tingkat kesadarn
-                      tidak toleran terhadap aktifitas : makan, bermain, berjalan, bahkan bicara
Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :

*                  Tingkat I :
-                      Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
-                      Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.
*                  Tingkat II :
-                      Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
-                      Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
*                  Tingkat III :
-                      Tanpa keluhan.
-                      Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
-                      Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
*                  Tingkat IV :
-                      Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
-                      Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
*                  Tingkat V :
-                      Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
-                      Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel.
-                      Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti : kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi.

e.                   KOMPLIKASI
1.                  Status asmatikus
2.                  Bronkhitis kronik, bronkhiolus
3.                  Ateletaksis : lobari segmental karena obstruksi bronchus oleh lender
4.                  Pneumo thoraks
Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asam tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus yang kental. Situasi ioni dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya teklanan untuk melakukan ventilasi
5.                  Kematian

B.                 ASUHAN KEPERAWATAN
a.            PENGKAJIAN
1.            Identitas klien
1)            Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan, alergi debu, udara dingin
2)            riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas, keringat dingin.
3)            Status mental : lemas, takut, gelisah
4)            Pernapasan : perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan.
5)            Gastro intestinal : adanya mual, muntah.
6)            Pola aktivitas : kelemahan tubuh, cepat lelah


2.            Pemeriksaan fisik
Ø   Dada
1)           Contour, Confek, tidak ada defresi sternum
2)           Diameter antero posterior lebih besar dari diameter transversal
3)           Keabnormalan struktur Thorax
4)           Contour dada simetris
5)           Kulit Thorax ; Hangat, kering, pucat atau tidak, distribusi warna merata
6)           RR dan ritme selama satu menit.

-               Palpasi :
1)            Temperatur kulit
2)            Premitus : fibrasi dada
3)            Pengembangan dada
4)            Krepitasi
5)            Massa
6)            Edema

-               Auskultasi
1)            Vesikuler
2)            Broncho vesikuler
3)            Hyper ventilasi
4)            Rochi
5)            Wheezing
6)            Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat terjadinya.

3.            Pemeriksaan penunjang
1)      Spirometri :
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
2)      Tes provokasi :
-                Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.
-                Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.
-                Tes provokasi bronchial
Untuk menunjang adanya hiperaktivitas bronkus , test provokasi dilakukan bila tidak dilakukan test spirometri. Test provokasi bronchial seperti : Test provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.
3)      Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.
4)      Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum.
5)      Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal.
6)      Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
7)      Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.
8)      Pemeriksaan sputum.

b.            DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1.            Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus.
Tujuan : Jalan nafas kembali efektif.
Kriteria hasil :
F   Sesak berkurang, batuk berkurang, klien dapat mengeluarkan sputum, wheezing berkurang/hilang, vital dalam batas normal keadaan umum baik.
Intervensi :
1)            Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya : wheezing, ronkhi.
R/ : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema), tak ada fungsi nafas (asma berat).

2)            Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi.
R/ : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.

3)            Kaji pasien untuk posisi yang aman, misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran.
R/ : Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.

4)            Observasi karakteristik batuk, menetap, batuk pendek, basah. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk.
R/ : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada klien lansia, sakit akut / kelemahan.

5)            Berikan air hangat.
R/ : penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.

6)            Kolaborasi obat sesuai indikasi.
F   Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi).
R/ : Membebaskan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa.

2.            Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
Tujuan : Pola nafas kembali efektif.
Kriteria hasil :
F   Pola nafas efektif, bunyi nafas normal atau bersih, TTV dalam batas normal, batuk berkurang, ekspansi paru mengembang.

Intervensi :
1)            Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal.
R/ : Kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada.

2)            Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels, wheezing.
R/ : ronchi dan wheezing menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.

3)            Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
R/ : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.

4)            Observasi pola batuk dan karakter sekret.
R/ : Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.

5)            Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk.
R/ : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas.

6)            Kolaborasi
-             Berikan oksigen tambahan
-             Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer
R/ : memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas, memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.

3.            Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.
Kriteria hasil :
F   Keadaan umum baik, mukosa bibir lembab, nafsu makan baik, tekstur kulit baik, klien menghabiskan porsi makan yang disediakan, bising usus 6-12 kali/menit, berat badan dalam batas normal.
Intervensi :
1)            Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit, rambut, konjungtiva).
R/ : menentukan dan membantu dalam intervensi selanjutnya.

2)            Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
R/ : peningkatan pengetahuan klien dapat menaikan partisipasi bagi klien dalam asuhan keperawatan.

3)            Timbang berat badan dan tinggi badan.
R/ : Penurunan berat badan yang signifikan merupakan indikator kurangnya nutrisi.

4)            Anjurkan klien minum air hangat saat makan.
R/ : air hangat dapat mengurangi mual.

5)            Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering
R/ : memenuhi kebutuhan nutrisi klien.

6)            Kolaborasi
-             Konsul dengan tim gizi/tim mendukung nutrisi.
R/ : menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan.

-             Berikan obat sesuai indikasi.
F  Vitamin B squrb 2×1.
R/ : defisiensi vitamin dapat terjadi bila protein dibatasi.

F  Antiemetik rantis 2×1
R/ : untuk menghilangkan mual / muntah.

4.            Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Kriteria hasil :
F   KU klien baik, badan tidak lemas, klien dapat beraktivitas secara mandiri, kekuatan otot terasa pada skala sedang
Intervensi :
1)            Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dyspnea peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas.
R/ : menetapkan kebutuhan/kemampuan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.

2)            Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
R/ : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan.

3)            Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan atau tidur.
R/ : pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau menunduk kedepan meja atau bantal.

4)            Bantu aktivitas keperawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
R/ : meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

5)            Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
R/ : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan meningkatkan istirahat.

5.            Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah.
Kriteria hasil :
F   Mencari tentang proses penyakit :
-             Klien mengerti tentang definisi asma
-             Klien mengerti tentang penyebab dan pencegahan dari asma
-             Klien mengerti komplikasi dari asma
Intervensi :
1)            Diskusikan aspek ketidak nyamanan dari penyakit, lamanya penyembuhan, dan harapan kesembuhan.
R/ : informasi dapat manaikkan koping dan membantu menurunkan ansietas dan masalah berlebihan.

2)            Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal.
R/ : kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mangasimilasi informasi atau mengikuti program medik.

3)            Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif atau latihan pernafasan.
R/ : selama awal 6-8 minggu setelah pulang, pasien beresiko besar untuk kambuh dari penyakitnya.

4)            Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan.
R/ : upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah meminimalkan komplikasi.

5)            Buat langkah untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahteraan, misalnya : istirahat dan aktivitas seimbang, diet baik.
R/ : menaikan pertahanan alamiah atau imunitas, membatasi terpajan pada patogen.

c.             EVALUASI
a.             Jalan nafas kembali efektif.
b.            Pola nafas kembali efektif.
c.             Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.
d.            Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

e.             Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah.

Tidak ada komentar: